Sabtu, 06 Februari 2016

Ragam Inspirasi Craft di Bazar Perban

Satu lagi komunitas kerajinan tangan yang mengadakan ajang apresiasi untuk bermacam-macam produk kerajinan, Bee Mee Arts & Craft Community. Acara yang bertajuk “Pameran Kerajinan Bandung” (Perban) ini berlangsung pada 5 April 2014, di Wijde Blik Food & Gallery, Jl. Dayang Sumbi No. 10 Bandung. Pada kesempatan kali ini komrads, kami bisa berpartisipasi dalam dua kegiatan sekaligus: bazar dan workshop. Mantap sekali.

"Perban" dari Bee Mee Arts & Craft Community.
Detail acara Pameran Kerajinan Bandung di Wijde Blik Food & Gallery.


Selain bazar, acara Perban ini juga diisi dengan aneka workshop dari berbagai usaha kerajinan, lomba daur ulang, talkshow tentang peluang bisnis crafting lokal menuju internasional, dan suguhan apresiasi musik. Workshop Kundi Craft sendiri terlaksana pada pukul lima sore dengan peserta berjumlah 7 orang dari kawan-kawan Stuba (Studi Teater Unisba) dan pengunjung.

Suasana worskhop bersama Kundi Craft.
Tampak para peserta sedang berkreasi mendaur ulang limbah elektronik
yang akan dibuat menjadi gantungan kunci. 


Proses pengerjaan daur ulang saat workshop.
Salah seorang peserta sedang mengikir PCB (Printed Circuit Board),
yang selanjutnya akan dibersihkan dan di-finishing.
Pada acara ini kami bertemu beragam produk kerajinan tangan, seperti dompet berbahan kulit & kain, teman-teman penggiat gambar (Komunitas Pensil Kertas), produk rajutan, boneka kain, coretan doodle di berbagai media (DinArt), mainan anak-anak sarat edukasi (Tokecang Toys), produk bantal, tas, dan aneka wadah kain (Cotton Industries), dan banyak kreasi menarik lainnya. Bukan cuma pengunjung yang gembira, kami juga, karena jadi banyak inspirasi. Hehe.

Kesan di hati kami tentunya ingin berterima kasih pada Bee Mee Arts & Craft Community yang menawarkan ruang lapak dan kesempatan berkreasi daur ulang limbah elektronik. Serta tidak lupa juga untuk kawan-kawan Stuba dan pengunjung atas partisipasinya sebagai peserta workshop. Oke komrads, semoga menikmati cerita kami. Sampai berjumpa lagi. Salam.

—Kundi Craft


Stand bazar Kundi Craft.
Tampilan hasil daur ulang limbah elektronik Kundi Craft dan bahan mentahnya.

Area Stand Bazar di Bagian Dalam.
Stand Kundi Craft bersama para crafter lainnya.  
Lapak Kundi Craft Tampak Depan.
Selamat datang para pengunjung!

Stand Komunitas Pensil Kertas.
Lapak salah satu tetangga Kundi Craft di acara Perban.

Saturday Sound, Saat Musik dan Bazar Berpadu




Kami mencoba mengingat, siang menuju sore itu di area Akuarium Universitas Islam Bandung (Unisba) sudah cukup ramai oleh sekumpulan mahasiswa dan panitia yang tampak berseliweran. Penyebabnya adalah Saturday Sound akan dimulai. Sebuah acara yang diramu oleh BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba, mengusung perpaduan musik dan bazar untuk mahasiswa dan umum. Sedikit catatan, acara ini sudah berlangsung pada Februari 2014 yang lalu, dan masih diadakan secara berkala hingga terakhir kami menonton Desember 2015 kemarin. Makin ramai. Meskipun ini late post dari kami, harapannya adalah semoga sajian kami kali ini tetap dapat komrads nikmati. Hehe.

Antusias pengunjung.
Stand Kundi Craft dijambangi para pengunjung acara musik dan bazar Saturday Sound.

Kala itu, Kundi Craft ditawari ruang lapak untuk berniaga dan pamer produk. Kami menyambutnya dengan hati senang. Ketika baru tiba dan persiapan gelar kreasi, beberapa pengunjung mampir ke stand dan sambil menata, kami sekilas bercerita tentang kreasi Kundi Craft dari llimbah elektronik. Acara ini strategis, disuguhkan musik sekaligus bisa cuci mata stand to stand, seperti dari produk pakaian dan aksesoris, serta mencicipi kulinernya. Terus berlanjut mulai dari sore sampai malam menjelang. Kami yang berada di stand ini pun makin betah karena bisa ikut menikmati musiknya.

Terima kasih kami untuk kawan-kawan BEM FEB Unisba dan Pak Yuhka, Wakil Dekan FEB Unisba yang telah memberikan kami kesempatan untuk berpartisipasi pada acara Saturday Sound ini. Musik dan bazar, pas sekali! Sedikit dokumentasi dari kami, selamat menikmati. Salam.


—Kundi Craft


Area Stand Kundi Craft.
Menyuguhkan berbagai kreasi aksesoris hasil daur ulang limbah elektronik.

Musik Saturday Sound.
Salah satu penampilan band di panggung Saturday Sound.




Penutup Acara.
Wakil Dekan FEB Unisba tampil di panggung saat penutupan acara Saturday Sound.









Kundi Craft, Komunitas DKG, dan Iyang String Family


Pada tahun 2014 yang lalu, kami sempat mengadakan workshop kolaborasi dengan beberapa pengusaha produk kerajinan lain di Bandung yang bertema “The Last Guitar on Earth”. Kolaborasi kegiatan ini melibatkan pengusaha yang sudah lebih dulu dan lebih lama berkecimpung dalam dunia kerajinan, dibandingkan dengan Kundi Craft yang bisa dibilang, masih amat muda. Bidang yang mereka geluti sangat spesifik, yaitu pembuatan alat musik handmade. Komrads semua, sebelum bercerita lebih jauh tentang workshop, kami ingin memperkenalkan siapa dua pengusaha getol ini.

Pertama, ada Komunitas DKG (Dapur Kreasi Gitar). Komunitas ini dimotori terutama oleh Dadan Purnama, pengrajin asal Holis, Bandung. Sejak remaja, Kang Dadan sudah menyenangi dan mempelajari musik. Disebabkan kesulitannya saat membeli alat musik, khususnya gitar, ia pun memutuskan membuat gitar untuk keperluannya sendiri. Dari sana, Kang Dadan akhirnya bergelut menjadi pengrajin pembuat alat musik. Dalam perjalanan usahanya, ia juga membuat alat musik petik unik dari bahan bambu, seperti contrabass. Komunitasnya ini, menampung beberapa pihak lainnya yang seiring waktu telah menjadi pengusaha mandiri, namun masih bergerak di bidang usaha alat musik. Seperti Dayat di Banjaran, seorang pengusaha inlay-dot/design papan nada dan aksesorisnya. Lalu, ada Entis dan Egi yang berfokus pada komponen dan wiring pada gitar. Serta Uning yang telah memiliki toko kecil di Kopo yang fokus di pemasaran dan penjualan.

Contrabass unik.
  Kombinasi bahan dari bambu dan kayu sonokeling buatan Kang Dadan Purnama
Sudut penampakan bengkel DKG di Holis, Bandung.
Tampak beberapa gitar setengah jadi dan yang akan diperbaiki.

Selanjutnya yaitu Iyang String Family. Usaha pembuatan alat musik handmade ini didirikan oleh Iyang, yang produksinya berlokasi di Jl. Asep Berlian, Cicadas, Bandung. Adapun produk buatan Kang Iyang meliputi gitar, bass, biola, piano, cello, dan contrabass. Selain itu, Kang Iyang juga membuat alat musik tradisional seperti kecapi sunda. 


Kecapi Sunda.
Produk Alat Musik Buatan Kang Iyang.

Kecapi Sunda tampak samping-depan.


Produk Kecapi Sunda Kang Iyang.
Nah, komrads, kedua pengrajin sekaligus pengusaha ini konsisten merintis produksinya selama belasan tahun di Bandung. Kami tentu salut. Pada perjalanan usaha kami saat itu, kami ternyata berkesempatan untuk bertemu dengan para pengrajin berpengalaman. Kemudian, bermula dari obrolan santai dan cerita perintisan produksi dengan segala lika-likunya, hingga berujung pada keinginan untuk berbagi dalam tataran yang lebih luas: mengadakan workshop pembuatan gitar (body fiber). Kang Dadan dan Kang Iyang akan menceritakan proses produksi gitar, sementara kami akan mencoba di bagian pembuatan punggung gitar (roundback) berbahan fiber resin.

Workshop-nya terbuka untuk umum dan gratis, serta telah terlaksana di BCCF (Bandung Creative City Forum), Jl. Purnawarman No. 70, Bandung, pada 23 Maret 2014. Peserta sebagian besar merupakan mahasiswa dan berlangsung sedari siang menuju sore. Selain itu juga komrads, acara workshop ini dipandu oleh Dadi Yeehaw, salah satu personil PHB yang kini juga seorang pengusaha alat musik gitar ukulele. Saat break sore, kami disuguhkan dengan penampilan segar oleh Saguaro, duo musisi Maryam dan Cahyo yang menampilkan perpaduan musik akustik dan pembacaan puisi.



The Last Guitar on Earth.
Informasi Acara. 

Tentunya, Kundi Craft mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang menggagas dan mewujudkan acara workshop kolaborasi “The Last Guitar on Earth” ini. Kepada penanggung jawab yang juga beride, Rida Suhendar beserta jajaran panitianya, terima kasih. Teruntuk komrads, yang telah menyempatkan waktu untuk hadir dan berpartisipasi, terima kasih. Begitu pula untuk komrads semua yang membaca late post Kundi Craft kali ini, terima kasih.

Mari Berbagi, mari berkreasi. Salam.

—Kundi Craft


Pojok Stand Kundi Craft.
Pamer kreasi dan bahan limbah elektronik.
 
Sugeng Riyadi dari Kundi Craft.
Penjelasan umum tentang membuat punggung gitar (roundback) berbahan fiber resin.

Para peserta workshop.


Dadan Purnama dari Komunitas DKG.
Menceritakan tentang proses awal pembuatan gitar handmade.

Iyang dari Iyang String Family.
Berobrol tentang proses finishing gitar handmade.











Jumat, 11 Desember 2015

Tentang Orgone dan Orgonite


Dr. Wilhelm Reich
Orgone adalah energi kehidupan yang terdapat di seluruh alam semesta, tentunya termasuk setiap makhluk yang hidup di dalamnya. Dalam istilah ketimuran, energi ini disebut juga chi (China), ki (Jepang), pneuma (Yunani), atau prana (Sanksekerta). 

Energi orgone salah satunya dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam upaya memaksimalkan efektivitas energi ini, Dr. Wilhelm Reich (1897-1957), ahli neurologi sekaligus ilmuwan asal Austria, melakukan penelitian di tahun 1930-an hingga 40-an dengan menciptakan alat yang disebut chamber accumulator atau orgone accumulator. Alat ini berbentuk lemari yang terbuat dari 2 komponen yang saling melapisi: logam baja dan kayu.

"Chamber accumulator"
Berpuluh tahun kemudian, seorang Karl Hans Welz mengembangkan alat lain yang juga dapat memaksimalkan energi orgone. Inilah yang kemudian ia sebut orgonite. Orgonite hasil pengembangannya terdiri dari 3 komponen: serpihan logam, kristal kuarsa, dan resin. Hal ini berbeda dengan orgonite yang juga dikembangkan oleh Don Croft. Ia juga membuat orgonite dengan ketiga komponen tersebut, hanya saja ia menggunakan lempengan logam, bukan serpihan. Saat ini, di dunia dan di Indonesia, orgonite telah mengalami perkembangan yang pesat. Pemanfaatannya tidak hanya untuk memperbaiki metabolisme tubuh, tetapi juga untuk menangkal radiasi elektromagnetik, mengubah ion awan agar mengundang hujan kala kemarau panjang, menetralisir air, udara, dan tanah yang terpolusi, mempercepat pertumbuhan tanaman, dsb.

Seiring dengan manfaat yang dimunculkannya, kami mulai memproduksi orgonite sekitar bulan Juni 2015 yang lalu. Sebelumnya, terima kasih kepada Mas Gatot, senior kami yang telah memperkenalkan alat antiradiasi ini jauh sebelum kami berproduksi. Teruntuk komrad semua, semoga menikmati ulasan dan kreasi kami kali ini. Salam.


—Kundi Craft


Liontin Heksagonal Orgonite yang terdiri dari kristal kuarsa,
limbah pin processor komputer, kawat spiral tembaga, dan resin.
Frame liontin dan holder kalung dikombinasikan dari stainless steel hard disk komputer dan kuningan.
Liontin Segitiga Orgonite, terdiri dari kristal kuarsa, 
limbah pin processor komputer, kawat spiral tembaga, dan resin. 
Frame liontin dan holder kalung dikombinasikan dari stainless steel hard disk komputer dan kuningan.

Piramida Orgonite, terdiri dari kristal kuarsa, limbah alumunium,
limbah pin processor komputer, kawat spiral tembaga, dan resin. 

Liontin Persegi Orgonite,  terdiri dari kristal kuarsa, limbah pin processor komputer, 
kawat spiral tembaga, dan resin.
Holder liontin berbahan stainless steel hard disk komputer.

Liontin Segitiga Orgonite, terdiri dari kristal kuarsa, limbah pin processor komputer, 
kawat spiral tembaga, dan resin.
Holder 
liontin berbahan stainless steel hard disk komputer.

Liontin Circle Orgonite, terdiri dari kristal kuarsa, kawat spiral tembaga,
limbah serpihan kuningan, dan resin.
Tower Buster Orgonite, terdiri dari kristal kuarsa, limbah serpihan alumunium (abu-abu),
limbah serpihan besi (hitam), dan resin.

Piramida Orgonite, terdiri dari kristal kuarsa, kawat spiral tembaga,
limbah serpihan alumunium, kuningan, dan besi, serta resin.

Liontin Heksagonal Panjang Orgonite, terdiri dari kristal kuarsa, kawat spiral tembaga,
limbah serpihan kuningan, dan resin.
Liontin Yin Yang Orgonite, terdiri dari kristal kuarsa, obsidian biru dan merah,
limbah serpihan alumunuim dan kuningan, serta resin.
Cover liontin berbahan plat tembaga.

Liontin Segitiga Orgonite (sebelum finishing), terdiri dari batu obsidian biru,
limbah serpihan kuningan, kawat spiral tembaga, dan resin.

Liontin Yin Yang for couple (sebelum finishing), terdiri dari batu obsidian merah, laps lazuli (biru),
limbah serpihan kuningan, dan resin.




Rabu, 11 November 2015

Kreasi-kreasi Kundi Craft

Hai komrad.. Setelah mengendap dari aktivitas online beberapa waktu yang lalu, terdapat banyak kreasi Kundi Craft yang belum sempat terpublikasikan. Entah itu kalung, cincin, atau gantungan kunci.  Selamat menikmati kreasi Kundi Craft.. dan tentunya, terima kasih banyak atas pemesanan komrad sekalian. Terima kasih telah membantu kami dalam proses daur ulang ini dan telah mengapresiasi kreasi kami. Salam.

Kalung "The Astroboy".
Kombinasi bahan dari plat tembaga dan plat stainless hard disk komputer.

Kalung "Bintang David".
Kombinasi bahan dari limbah kayu Sonokeling dan plat stainless hard disk komputer.


Gantungan Kunci Couple "Ndde & Ikill". Kombinasi bahan dari limbah kayu Sonokeling
dan plat stainless hard dik komputer.


Gantungan Kunci Couple "Ndde & Ikill" tampak samping-atas.
Anting "The Chains".
Kombinasi bahan plat stainless hard disk komputer, kuningan, dan kawat tembaga bekas.

Anting "The Chains".
Kawat tembaga dibentuk dengan pengerjaan manual.
Cincin "The Copper Flower".
Kombinasi IC limbah komputer dan plat stainless hard disk.

Cincin "The Copper Flower" tampak atas.

Kalung Couple "Heni & Sandi".
Kombinasi bahan plat tembaga, limbah kayu Sonokeling, dan plat stainless hard disk.

Kalung Couple "19 D & 19 I".
Kombinasi bahan limbah kayu Sonokeling dan plat stainless hard disk.

Gantungan Kunci "ESP".
Kombinasi bahan plat tembaga, plat stainless hard disk komputer, dan limbah kayu Sonokeling.

Gantungan Kunci "ESP" tampak belakang.

Kalung "Framing Wood".
Kombinasi IC, limbah kayu Sonokeling, dan plat stainless hard disk.


—Kundi Craft

Salam Berjumpa

Halo para komrad sekalian..

Menarik mundur waktu setahun ke belakang, Kundi Craft seolah tidak tampak aktivitasnya. Jika itu dimaksudkan pada aktivitas dunia maya, memang benar adanya. Namun, sesungguhnya kami masih hadir di dunia nyata meski dengan gerak yang lebih pelan. Di awal tahun 2015 yang lalu, kami sempat menghentikan produksi dalam rentang waktu beberapa bulan sebab harus mencari tempat produksi yang baru. Terfokus di sana, akhirnya kami mendapat bantuan dari kawan-kawan kami yaitu Sarca, Bang Dika, dan Bang Verdy dengan tawarannya untuk menempati rumah kontrakan mereka yang sebelumnya juga menjadi tempat produksi. Tak berapa lama kami baru bergerak, kami akhirnya mesti berpindah (lagi) agar dapat terus melakukan produksi. Terima kasih sebelumnya untuk kawan kami, Bang Yogi, yang atas persetujuannya membuat kami mendapat ruang produksi kembali. Sekali lagi, teruntuk kawan-kawan semua, banyak terima kasih.

Terlepas dari itu semua, kami paham betul sejak tahun lalu kami menyisakan beberapa pekerjaan yang tertunda. Hingga saat ini, kami terus mencicil pengerjaannya. Mohon maaf atas segala kekurangan kami dan terima kasih banyak untuk semua saudara dan kawan-kawan kami, yang tanpa bantuannya, kami, Kundi Craft belum tentu masih bisa bergerak aktif. Dan terima kasih kami untuk alam semesta serta Sang Pencipta..

Salam.


—Kundi Craft