Rabu, 13 November 2013

The Mask

Giwang ini tampak mungil! Ya ya, memang kecil mungil komrads. Tapi, apa gerangan yang menempel di belakangnya? Ini dia pesanan dari Indra, komrads kami yang ingin giwang dengan perekat magnet. Sepertinya biar tidak repot tindik lagi ya? Hehe. Terbuat dari IC limbah komputer dan bagian magnet hard disk. Selamat berpakai yak. Terima kasih! Cheers.


The Mask. Giwang terbuat dari IC limbah komputer. Status: SOLD. Rp 35.000,-


Disain giwang dengan magnet sebagai pelekat di telinga.


—Kundi Craft—

Keris Emas?

Simpan semua asumsi komrads dulu sebelum selesai membaca posting ini. Hehe. Bukan keris terbuat dari emas yang kami kreasikan. Hanya saja, kami memang menamainya “The Gold Keris”. Sebentuk kalung berbahan limbah kayu sonokeling ditambah dengan kombinasi plat limbah hard disk komputer dan kawat kuningan. Percaya deh, Ardi, kamu makin kece make kreasi Kundi. Hahaaayy. Bersulang.

Komrads ada yang tertarik juga?


The Gold Keris. Bahan kalung ini terdiri dari: limbah kayu sonokeling, plat limbah hard disk, kawat kuningan.
Status: SOLD. Rp 160.000,-

Kalung dengan bentuk oval.

—Kundi Craft—

Cincin Pertama Kreasi Kundi

Selamat berjumpa kembali komrads! Perkenalkan “Labirin Line”. Sebuah cincin terbuat dari limbah prosesor komputer dan ring yang berasal dari plat limbah hard disk. Dibandrol dengan harga Rp 75.000,- ini merupakan cincin pertama yang dibuat, sesuai dengan pesanan Intan. Para komrads memang luar biasa. Ordernya bukan saja membantu kami mengurangi limbah—khususnya limbah elektronik—tetapi juga sekaligus memberi inspirasi. Keren! Thanks so much. Cheers.


Labirin Line. Cincin berbahan limbah prosesor komputer. Status: SOLD. Rp 75.000,-


Cincin tampak belakang..


Tampak dari samping :)



—Kundi Craft—

The IC’s Finger Print

Limbah IC dari seperangkat komputer itu bisa jadi bermacam-macam bentuknya. Beberapa kami jadikan mereka gantungan kunci. Beberapa lagi dibentuk giwang. Sebagian lagi menjadi kalung. Nah, seperti yang satu ini. Wadah kecil prosesor digabungkan dengan IC menjadikannya kalung kreasi baru. Hehe. Garis-garis halusnya seperti sidik jari! Kalau pendapatmu komrads?


The Finger Print. Status: AVAILABLE. Rp 80.000,-


—Kundi Craft—

V Within Me, A Within You, and Us for Sure

Seringnya, saya tak menyangka, kreasi Master Kundi Craft menjadi pilihan komrads untuk melengkapi momen pentingnya. Seperti ulang tahun, a gift for someone special, dan kali ini kreasi Kundi terpaut pada anniversary relationship seorang teman kuliah saya. Order kalung berpasangan dengan bahan limbah kayu sonokeling akhirnya diproses. Berciri inisial nama dirinya dan pasangan, sedikit diskusi soal disain…dan tadaaaa… “The AV Triangle” pun selesai tepat H-2 sebelum hari jadi mereka. Congrats!

Terima kasih untuk kunjungannya ke bengkel. Terima kasih sudah order kreasi Kundi. Mari bersulang.



The AV Triangle. Status: SOLD. Rp 160.000,-

—Kundi Craft—

The Treasure Is.. Me!

Ada yang bilang kreasi Kundi yang satu ini motifnya seperti batik.., (kalau menurut komrads bagaimana? Hehe) tapi yang terlintas pertama kali di benak Mas Sugeng setelah kreasinya beres, motif yang muncul seperti peta. Iya, peta harta karun. Karenanya kami menamakannya “Treasure Map Motive”. Dipesan langsung oleh komrads kami nan geulis, Dinda.

Kreasi ini berasal dari IC VGA yang dikombinasikan dengan limbah kayu sonokeling (Java Palasinder). Sedikit cerita, kayu sonokeling ini kami peroleh dari kang Iyang, seorang produsen alat musik handmade di Bandung. Terima kasih akang J.

Teruntuk Dinda, selamat berpakai kreasi Kundi Craft. Cheers.


Treasure Map Motive. Status: SOLD. Rp 100.000,-

—Kundi Craft—

Sono Sore, Ngumpul Seru Di Taman Kota

Sore itu, pada permulaan September, saya usai menggelar display kreasi Kundi Craft di bawah kolong jembatan Pasupati, Bandung. Tak berapa lama lagi, sebentuk acara yang digalang Komunitas Taman Kota akan dimulai. Sembari menunggu, seorang anak kecil, dengan beberapa temannya sesekali melirik kreasi Kundi. Mampir, mondar-mandir, kemudian berlalu. Mencoba menahan silau matahari sore dengan sebelah tangan, lantas angin sepoi menerbangkan flyer Kundi Craft yang sudah saya susun dan impit dengan sebuah kotak.

Gelar "lapak berbagai". Dipilih..dipilih.. :)

Narsis kreasi dulu. Mumpung kena lighting alam. 


Gantungan kunci kreasi Kundi Craft yang kece!

Anak lelaki itu ternyata kembali merapat ke lapak Kundi Craft. Namanya Satria. Setelah sedikit bertanya ini itu tentang kreasi kita, dia malah asik bercerita pada saya tentang kesenangannya bermain sepeda dan tamiya. Permainan mobil-mobilan balap sirkuit itu pernah dimenangkannya. Selain itu, ia juga gemar bersepeda. Setelah mengaku belum mandi, ia lantas pulang.

Satria, anak lelaki yang berhobi main sepeda dan tamiya.


Hampir maghrib, acara Sono Sore (Kangen Sore) sudah mulai ramai. “Lapak Berbagai”—itu istilah yang disebut—pun sudah rapi berjejer. Kami berbagi lapak dengan akang penjual kaset tape dan compact disc. Sesekali combo tape-nya menyala, memutar beberapa kaset yang ingin didengarkan calon pembelinya. Sementara itu, di depan kami sebuah kain putih tengah dibentangkan untuk sesi nonton film bersama. Tiang-tiangnya dikaitkan dengan dua motor. Hehe. Ternyata tak menyangka, kami bersua pula dengan beberapa kawan, kang Ismal Muntaha, kang Carda Arifin, Teh Sinta, dan Mba Besti. Sementara Andry Bem, muncul setelah langit mulai gelap.


Lapak siap tersaji


Ngobrol-ngobrol dulu.
Lepas maghrib, diterangi lampu motor, pembukaan dimulai dengan sebuah pantomim berjudul “Sangkuriang”. Anak-anak ramai sekali di barisan depan, ditemani ibu-ibu. Antusias mereka memuncak setelah pantomim usai. “Lagi..lagi…lagi…” ujar mereka. Sedikit kebingungan dan tak mengira—sepertinya—dengan respon anak-anak, akhirnya akang pantomim—kita sebut saja begitu karena saya lupa namanya, hehe—pun bercerita soal tips-tips berpantomim. Anak-anak dengan suka rela dan suka cita berpartisipasi mengikuti akang pantomim. Imajinasi bermunculan. Tepuk tangan dan tawa mengiringi.


Pantomim berjudul "Sangkuriang" sedang pentas.


Sepertinya ini gerakan mau beres cerita.

Usainya, kami menonton cuplikan video karya kang Ismal dan kang Carda. Mulai dari anak-anak yang berpaduan suara, bermain seluncuran di area tanah liat, hingga profil beberapa keluarga desa Jatisura… yang… manis banget. Hehe.

Pukul sembilan malam sudah dekat. Anak-anak dan para ibu satu-satu pulang. Beberapa pelapak menyusun kembali barang dagangannya, begitu juga kami. Terima kasih anak-anak dan para ibu. Terima kasih Satria. Terima kasih para pembeli. Terima kasih para pengunjung. Terima kasih masyarakat setempat. Terima kasih Kang Ajo dari Komunitas Taman Kota. Terima kasih komrads yang sudi membaca. Maaf untuk keterlambatan berceritanya. Hehe. Cheers.


Untold: Sugeng Riyadi & Riri Oktriani.

—Kundi Craft—